Showing posts with label AGROBISNIS. Show all posts
Showing posts with label AGROBISNIS. Show all posts

Saturday, November 14, 2015

Cara membuat kompos


Kompos merupakan pupuk yang dibuat dari sisa-sisa mahluk hidup baik hewan maupun tumbuhan yang dibusukkan oleh organisme pengurai. Organisme pengurai atau dekomposer bisa berupa mikroorganisme ataupun makroorganisme. Kompos berfungsi sebagai sumber hara dan media tumbuh bagi tanaman.
Dilihat dari proses pembuatannya terdapat dua macam cara membuat kompos, yaitu melalui proses aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara). Kedua metode ini menghasilkan kompos yang sama baiknya hanya saja bentuk fisiknya agak sedikit berbeda.

Cara membuat kompos metode aerob

Proses pembuatan kompos aerob sebaiknya dilakukan di tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Karakter dan jenis bahan baku yang cocok untuk pengomposan aerob adalah material organik yang mempunyai perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) kecil (dibawah 30:1), kadar air 40-50% dan pH sekitar 6-8. Contohnya adalah hijauan leguminosa, jerami, gedebog pisang dan kotoran unggas. Apabila kekurangan bahan yang megandung karbon, bisa ditambahkan arang sekam padi ke dalam adonan pupuk.
Cara membuat kompos aerob memakan waktu 40-50 hari. Perlu ketelatenan lebih untuk membuat kompos dengan metode ini. Kita harus mengontrol dengan seksama suhu dan kelembaban kompos saat proses pengomposan berlangsung. Secara berkala, tumpukan kompos harus dibalik untuk menyetabilkan suhu dan kelembabannya. Berikut ini cara membuat kompos aerob:
§  Siapkan lahan seluas 10 meter persegi untuk tempat pengomposan. Lebih baik apabila tempat pengomposan diberi peneduh untuk menghindari hujan.
§  Buat bak atau kotak persegi empat dari papan kayu dengan lebar 1 meter dan panjang 1,5 meter. Pilih papan kayu yang memiliki lebar 30-40 cm.
§  Siapkan material organik dari sisa-sisa tanaman, bisa juga dicampur dengan kotoran ternak. Cacah bahan organik tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil. Semakin kecil potongan bahan organik semakin baik. Namun jangan sampai terlalu halus, agar aerasi bisa berlangsung sempurna saat pengomposan berlangsung.
§  Masukan bahan organik yang sudah dicacah ke dalam bak kayu, kemudidan padatkan. Isi seluruh bak kayu hingga penuh.
Searah jarum jam: (1) Pemilihan lokasi pengomposan, (2) Membuat bak/kotak kayu, (3) Menyeleksi dan merajang bahan baku, (4) Memasukkan bahan baku baku kedalm bak kayu
§  Siram bahan baku kompos yang sudah tersusun dalam kotak kayu untuk memberikan kelembaban. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa ditambahkan starter mikroorganisme pembusuk ke dalam tumpukan kompos tersebut. Setelah itu, naikkan bak papan ke atas kemudian tambahkan lagi bahan-bahan lain. Lakukan terus hingga ketinggian kompos sekitar 1,5 meter.
§  Setelah 24 jam, suhu tumpukan kompos akan naik hingga 65oC, biarkan keadaan yang panas ini hingga 2-4 hari. Fungsinya untuk membunuh bakteri patogen, jamur dan gulma. Perlu diperhatikan, proses pembiaran jangan sampai lebih dari 4 hari. Karena berpotensi membunuh mikroorganisme pengurai kompos. Apabila mikroorganisme dekomposer ikut mati, kompos akan lebih lama matangnya.
§  Setelah hari ke-4, turunkan suhu untuk mencegah kematian mikroorganisme dekomposer. Jaga suhu optimum pengomposan pada kisaran 45-60oC dan kelembaban pada 40-50%. Cara menjaga suhu adalah dengan membolak-balik kompos, sedangkan untuk menjaga kelembaban siram kompos dengan air. Pada kondisi ini penguapan relatif tinggi, untuk mencegahnya kita bisa menutup tumpukan kompos dengan terpal plastik, sekaligus juga melindungi kompos dari siraman air hujan.
§  Cara membalik kompos sebaiknya dilakukan dengan metode berikut. Angkat bak kayu, lepaskan dari tumpukan kompos. Lalu letakan persis disamping tumpukan kompos. Kemudian pindahkan bagian kompos yang paling atas kedalam bak kayu tersebut sambil diaduk. Lakukan seperti mengisi kompos di tahap awal. Lakukan terus hingga seluruh tumpuka kompos berpindah kesampingnya. Dengan begitu, semua kompos dipastikan sudah terbalik semua. Proses pembalikan sebaiknya dilakukan setiap 3 hari sekali sampai proses pengomposan selesai. Atau balik apabila suhu dan kelembaban melebihi batas yang ditentukan.
§  Apabila suhu sudah stabil dibawah 45oC, warna kompos hitam kecoklatan dan volume menyusut hingga 50% hentikan proses pembalikan. Selanjutnya adalah proses pematangan selama 14 hari.
§  Secara teoritis, proses pengomposan selesai setelah 40-50 hari. Namun kenyataannya bisa lebih cepat atau lebih lambat tergantung dari keadaan dekomposer dan bahan baku kompos. Pupuk kompos yang telah matang dicirikan dengan warnanya yang hitam kecoklatan, teksturnya gembur, tidak berbau.
§  Untuk memperbaiki penampilan (apabila pupuk kompos hendak dijual) dan agar bisa disimpan lama, sebaiknya kompos diayak dan di kemas dalam karung. Simpan pupuk kompos di tempat kering dan teduh.
Searah jarum jam: (1) Penyiraman dan penambahan dekomposer, (2) Proses penumpukkan kompos, (3) Merapihkan tumpukan, (4) Pembalikan kompos
Proses pembuatan kompos aerob cocok untuk memproduksi kompos dalam jumlah besar


CABE RAWIT DALAM POT/POLYBAG


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRFBHtEqhKC171NOmhDVYGTJoornB1RTpSlkN23b9et5zXimJYHgzm-5FIT57ugr1xnWzKPdvL37sgP1aXG3qFFMPfOUkdZbF4oHbXlSVu7cVBHFXRNfjkdmkLBDyMm5hzzev45W9u8AM/s200/budidaya+cabe+di+pot+atau+polybag.jpghttp://kunia.files.wordpress.com/2011/07/100_4983.jpghttps://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQDsI7SJjXtegeZoi7395RTsxyp7WsIlUntpGkQl5JEqjXUhIsvRA


Bertanam cabe tidak harus mempunyai lahan yang luas, ada cara lain yang lebih efektif dapat ditempuh dengan memanfaatkan pot, polybag, atau dapat pula digunakan dari berbagai barang-barang bekas yang ada di sekitar kita seperti ; ember plastik, drum bekas, kaleng cat, dll.

Pada awalnya bertanam cabe dalam pot dilakukan sebagai upaya mengatasi keterbatasan lahan yang tersedia. Dalam perkembangannya, bercocok tanam cabe dalam wadah memiliki nilai artistik tersendiri sehingga selain bisa menikmati buahnya, keindahan pohon, dan warna-warni buahnya juga bisa dinikmati. Tidak mengherankan jika sekarang bercocok tanam cabe dalam wadah semakin banyak digemari orang dan telah menjadi hobi masyarakat perkotaan.

Salah satu keuntungan bertanam cabe menggunakan wadah adalah resiko kegagalan dapat diperkecil. Pasalnya, faktor lingkungan yang menjadi syarat tumbuh dapat dengan mudah direkayasa sesuai dengan kebutuhan.

A. Syarat-syarat tumbuh

Untuk dapat tumbuh dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan potensi produksinya, tanaman cabe memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai. Banyak faktor lingkungan yang menentukan pertumbuhan cabe. Tetapi secara umum, terdapat empat faktor lingkungan utama yang sangat menentukan , yaitu suhu, cahaya, tanah, dan air.

a. Suhu

Suhu merupakan faktor penting dalam proses kehidupan tanaman. Hal ini karena semua proses biokimia tanaman sangat dipengaruhi oleh suhu. Supaya tanaman cabe dapat tumbuh dengan baik, suhu ideal untuk pertumbuhannya harus dipenuhi. Tanaman cabe secara umum dikenal sebagai tanaman sayuran yang dapat tumbuh dalam rentang suhu yang cukup luas, yakni pada kisaran 15-32 derajat Celcius. Berdasarkan hasil penelitian, suhu optimum tanaman cabe berkisar antara 24-30 derajat Celcius.

b. Cahaya

Cahaya memiliki pengaruh tidak kalah pentingnya dengan suhu. Cahaya merupakan sumber energi bagi proses fotosintesis tanaman. Tanaman membutuhkan cahaya yang cukup untuk mendapatkan pertumbuhan yang sehat dan pembentukan buah yang maksimum selama masa produksinya. Pada tanaman cabe pada umumnya, cahaya yang dibutuhkan selama 12 jam/hari (berbeda sesuai varietas), sedangkan untuk tanaman cabe dalam wadah/pot, kebutuhan cahayanya dapat direkayasa sesuai kebutuhan, bisa juga dengan menambahkan naungan seperti paranet. Naungan ini sifatnya mengurangi intensitas matahari yang terlalu tinggi. Dengan begitu, cahaya yang dibutuhkan tanaman cabe akan tetap sesuai dengan kebutuhannya.

c. Tanah

Fungsi tanah bagi tanaman tidak hanya menyediakan unsur-unsur mineral, tetapi juga sebagai tempat berpegang dan bertumpunya tanaman agar dapat tumbuh tegak.
Bertanam cabe dalam pot pada dasarnya sama dengan bertanam cabai di lahan pekarangan. Pilihlah tanah yang gembur, berasal dari lapisan atas tanah, dan mampu mengikat cukup air.
Media tanah yang baik adalah campuran tanah humus, sekam padi dan pupuk kandang fermentasi dengan komposisi 1:1:1.
pH tanah ideal yang dibutuhkan tanaman cabe berkisar antara 4,5-7. Untuk pH tanah yang terlalu rendah (asam) dapat dinaikan dengan menambahkan kation basa seperti kalsium oksida (Cao) atau lebih populer dengan sebutan kapur dolomit. Sebaliknya, pH tanah terlalu tinggi (basa) dapat menambahkan unsur belerang (sulfur). Tanah yang digunakan sebagai media tanam sebaiknya remah atau poros. Dengan tanah yang poros perakaran akan mudah untuk melakukan proses respirasi (pernapasan).

d. Air

Bagi tanaman, air tidak hanya berfungsi sebagai sistem pelarut sel tanaman, tetapi juga sebagai media pengangkutan unsur-unsur makanan di dalam tanah. Karena itu air, air sangat diperlukan dalam proses pertumbuha tanaman. Air yang digunakan sebaiknya bebas polutan dan berkadar garam rendah. ph air yang optimum pada tanaman cabe berkisar antara 5-7, dengan kelembababn udara 70-80%. Tanaman cabe lebih menyukai kelembababn rendah daripada kelembaban yang tinggi.

B. Pembibitan

a. Memilih Benih Berkwalitas
Memilih benih cabe berkwlitas dilakukan agar tanaman cabe dapat tumbuh dengan dan produktip. Benih cabe bisa diperoleh di kios-kios pertanian atau di toko-toko yang menjual tanaman holtikultura. Gunakan benih yang masih dalam masa pemakaian (belum kadaluarsa). Semakin baru bibit tersebut, daya tumbuhnya akan semakin baik (germinasinya tinggi).
Billa ingin mendapatkan benih dari biji buah cabe langsung, pilihlah biji yang berasal dari buah yang besar, sehat, dan matang. Umumnya buah cabe yang matang berwarna merah tua. Belah biji memanjang, kemudian keluarkan dan pilih biji yang baik. Biji hasil seleksi kemudian di keringkan dengan cara di angin-anginkan.

b. Perlakuan Benih

Untuk mempercepat tumbuhnya benih, Sebelum di semaikan, benih diperlakukan dengan cara merendamnya dengan air hangat selama 24 jam, biji yang terapung dibuang, sedangkan biji yang tenggelam digunakan sebagai benih. Untuk mengurangi patogen atau penyakit yang mungkin terbawa bersama biji lakukan perendaman selama 10 menit dengan larutan fungisida golongan sisitemik supaya patogen/penyakit yang menempel mati. Benih yang ditanam harus mempunyai bentuk, ukuran, dan warna yang seragam, bersih, dan tidak keriput.

c. Penyemaian benih

Proses penyemaian benih bisa dilakukan dengan menggunakan wadah kayu, pot, atau baki (try) dengan ukuran menyesuaikan dengan kebutuhan. Media yang digunakan bisa berupa campuran kompos, pasir, dan pupuk kandang fermentasi atau cocopeat murni. Permbandingan antara kompos, pasir, dan kotoran ternak fermentasi 1:1:1.
Tebal media penyemaian minimal 10 cm. Sebelum disemai, benih dibasahi terlebih dahulu menggunakan air. Selanjutnya benih ditaburkan di atas media penyemaian dengan jarak dengan jarak kurang lebih 3-5 cm, kemudian ditutup tipis dengan media semai. Penyiraman media penyemaian bisa menggunakan sprayer. Media semai cukp disiram satu hari sekali. Namun bila cuaca cukup panas, penyemaian benih dapat disiram hingga dua kali sehari. Selama masa penyemaian, harus dihindari kontak langsung benih dengan cahaya matahari. Pemakaian pupuk yang berlebihan harus dihindari saat bibit masih di penyemaian. Bila proses penyemaian berjalan baik, dala 4-5 hari bibit cabai akan mulai berkecambah. Setelah berumur 4 minggu, bibit sudah dapat dipindahkan kedalam polybag kecil.

C. Penanaman bibit dalam Pot/Polybag


a. Persiapan Pot Tanam

Untuk melakukan penanaman cabe dalam wadah, yang perlu diperhatikan adalah diameter dan kedalaman wadah, hal ini terkait dengan perakaran cabe yang menyebar menembus cukup dalam antara 30-50 cm. Pot yang baik adalah yang memenuhi kriteria berikut :

1. Mampu mendukung perkembangan perakaran.
2. Bagian bawah pot harus berlubang untuk merembeskan air berelebih.
3. Dasar pot dipilih yang berkaki untuk membantu aerasi dan drainase.
4. Tidak terlalu berat agar mudah dipindahkan.
5. Tidak mudah lapuk dan pecah.
6. Dinding pot harus mampu merembeskan air dan udara keluar agar suhu tanah tetap stabil.

Jenis pot yang dipakai dapat berupa pot tanah liat, pot plastik, pot porselin, pot semen, pot ban bekas, pot kaleng bekas dan pot anyaman bambu. Beberapa jenis pot ini tidak memiliki sifat pot yang baik sehingga pada siang hari yang panas, suhu pot cepat naik dan tanaman menjadi layu. Karena itu, beberapa jenis pot perlu dilubangi didindingnya.

b. Persiapan Media Tanam

Sebelum bibit ditanam kedalam wadah/pot, media tanam berupa campuran pupuk kandang dan tanah atau kompos harus dipersiapkan terlebih dahulu. Mengisi tanah di dalam pot bisa dilakukan sebagai berikut :

1. Tutup lubang pot bagian bawah dengan pecahan genteng.
2. Isi dasar pot dengan kerikil dan pasir kasar untuk membantu aerasi dan drainase.
3. Masukkan tanah ke dalam pot dan jangan dipadatkan.
4. Siram dengan air secukupnya agar tanah menjadi mapan.
Bibit yang baru dipindahkan kedalam wadah/pot sebaiknya diletakkan ditempat yang teduh atau tidak terkena cahaya matahari langsung selama 2-3 hari.

D. Pemupukan

Pemupukan bertujuan menyediakan unsur hara ynag dibutuhkan oleh tanaman. Di dalam tanah sebenarnya telah tersedia unsur hara tetapi dalam jumlah yang tidak mencukupi untuk pertumbuhan tanaman secara maksimal. Dengan pemberian pupuk, tanaman dapat tumbuh pesat sehingga dapat cepat berbunga dan berbuah. Pupuk yang dugunakan untuk tanaman cabe dapat berupa pupuk organik (alami) atau anorganik (buatan).
Unsur N diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif. Bila tanaman terlalu banyak mendapat unsur N, tanaman akan tumbuh terlalu subur sehingga sulit menghasilkan bunga. Unsur P diperlukan untuk pertumbuhan generatif tanaman, yakni mendorong pembentukan dan pertumbuhan bunga dan buah. Sementara unsur K sangat diperlukan dalam membentuk dan mengirim (transportasi) karbohydrat, mengatur kebutuhan air yang dibutuhkan jaringan tanaman, dan mendorong daya serap air. Unsur K sangat menetukan produktifitas tanaman dalam menghasilkan buah, baik jumlah atau mutunya.

E. Penyiraman

Penyiraman tanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari,karena pada sing harinya tanaman banyak membutuhkan air untuk proses fotosintesis. Penyiraman sebaiknya dilakukan sebelum jam 09.00 pagi
EMELIHARAAN
  1. Usahakan sekitar tanaman tidak tumbuh gulma (organisme pengganggu tanaman)
  2. Lakukan perampesan / pembuangan cabang wiwilan atau daun tumbuh di bawah cabang utama dan buang bunga yang pertama kali muncul.
MEMANEN
Cabai dapat dipanen kisaran umur 80-90 hari dilakukan 1-2 kali seminggu menurut kebiasaan dan kebutuhan, usahakan cabang jangan patah. Umur cabai di polybag dengan media tanam yang memadai bisa mencapai 5 – 6 bulan.


Panduan Budidaya Jamur Merang dan Penjelasan Tata caranya

Top of Form


Jamur merang (Volvariella volvaceae), sangat dikenal dan diminati orang dibandingkan jamur lainnya. Keunggulan lainnya adalah, disamping pertumbuhan dan panennya cepat, jamur merang ini dapat diusahakan dalam skala kecil dengan sistim bedengan maupun skala besar, dengan sistim kubung. Untuk membudidayakan jamur ini dalam usaha manapun pada prinsipnya sama, yaitu mempunyai banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Pertama yang harus dipersiapkan adalah pengetahuan tentang pengenalan dan perilaku dari jamur itu sendiri, sehingga petani dapat mengetahui tahapan pertumbuhan jamur dan persyaratan tumbuhnya. Kemudian yang kedua ketersediaan lahan,tenaga kerja dan tentu saja modal. Produksinya, merupakan komoditi yang mempunyai prospek untuk dikembangkan baik untuk memenuhi permintaan dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan pasar akan jamur merang khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta sangat tinggi hingga mencapai 150 ton perhari. Pada musim kemarau pasokan jamur merang dari petani biasanya mengalami penurunan hingga 20 ton/hari, sehingga harga jamur merang melonjak tinggi, Jenis jamur yang paling banyak dibutuhkan untuk memenuhi permintaan rumah makan china adalah jamur merang, jamur ini dapat dikonsumsi sebagai campuran masakan misalnya bakso, sup dan masakan lainnya. Kegunaan lain adalah dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, karena mengandung protein, karbohidrat dan vitamin B. Berikut akan dikemukakan suatu petunjuk suatu teknologi mpembuatan jamur merang secara praktis dengan system bedengan dalam skala kecil.

PEMILIHAN LOKASI Jamur merang tidak memerlukan cahaya matahari yang terlampau banyak. Pada tempat yang teduh atau dibawah pohon yang rindang dan dibawah tanaman yang merambat sangat baik untuk membuat bedengan. Apabila tempat sudah dipilih, bedengan dibuat dengan arah memanjang dari Timur ke Barat. Jamur tidak menyukai tempat yang tergenang air atau tempat yang terlalau kering. Untuk mengindari genangan air dapat diatasi dengan meninggikan tanah alas bedengan. Sedangkan untuk menghindari kekeringan, dibuat saluran air pada sekeliling bedengan. Badengan harus dibuat kokoh agar tidak mudah roboh. Alas bedengan dibuat dari gundukan tanah, sedangkan pada tanah yang berpasir atau tanah lempung dianjurkan untuk menggunakan alas dari kayu, bambu dan bata. BAHAN BEDENGAN Bahan yang biasa digunakan untuk membuat bedengan adalah jerami padi yang sudah kering, Selain itu daun pisang yang sudah kering juga dapat dipakai. Buatlah ikatan jerami/ daun pisang dengan garis tengah 10 cm atau setengah jengkal. Sebagai tali pengikat dapat digunakan serat pelepah pisang. Potong jerami/ daun pisang yang sudah diikat dengan ukuran panjang 40 cm atau 2 jengkal. Untuk satu bedengan dengan ukuran lebar 60 cm dan panjang 160 cm, terdiri dari 6 lapisan yang memerlukan sekitar 90 ikat jerami/ daun pisang. Bila musim kemarau lapisan bedengan dibuat sebanyak 4 atau 5 sedangkan pada musim penghujan harus lebih banyak. Rendamlah ikatan jerami/ daun pisang yang sudah dipotong tadi kedalam air yang bersih, dan sebaiknya pada air yang mengalir. Perendaman dilakukan selama satu malam.Selanjutnya jerami diangkat dari rendaman, dan tiriskan beberapa saat.

CARA MEMBUAT BEDENGAN Bedengan yang telah terbentuk sesuai ukuran tadi dilengkapi dengan parit selebar 20 cm, kedalaman parit 15 cm. Jadi untuk satu bedengan hanya memerlukan lahan 2x1 meter. Sediakan dua potong kayu atau bambu, selanjutnya tancapkan masing-masing ditengah dari tepi kedua bagian lebar alas bedenga tadi. Hal ini dimaksudkan agar jerami/ daun pisang yang disusun tidak roboh

CARA MENANAM BIBIT. Penanaman bibit dilakukan setelah lapisan bedengan tersusun rapih, dengan jarak 1/2 jengkal ( 10 cm). Caranya bibit diselipkan atau dimasukkan diujung bedenga. Kerangkan penutup bedengan terbuat dari bambu setinggi satu meter. Setelah kerangkan jadi, tutuplah dengan plastik. Penutupan ini dimaksudkan agar suhu dan kelembaban bedengan dapat terjaga. Penutup hanya boleh dibuka setelah bibit jamur yang ditanam telah berumur 5 hari. PEMELIHARAAN. Penambahan air kedalam saluran air disekeliling bedengan sangat dianjurkan untuk menjaga kelembaban dan untuk mencegah bedengan dari gengguan semut/rayap. Penyiraman dengan air sari beras atau sari buncis setelah 5 hari dimusim kemarau harus dilakukan secara perlahan-lahan. Hal ini dimaksudkan agar benang-benang miselium jamur yang sedang tumbuh tidak rusak karena penyiraman. Sedangkan pada musim penghujan, penyiraman tidak dianjurkan. CARA PEMANENAN Pertumbuhan jamur merang dimulai dari ukuran jarum pentul, kancing, telur dan payung. Jamur merang yang dipanen pada ukuran telur, dalam pemanenan tidak menggunakan gunting/ pisau, karena alat tersebut dapat mengakibatkan pembusukan pada jamur. Cara panen yang baik, hendaknya dilakukan dengan tangan. Caranya batang/ pangkal jamur diputar perlahan-lahan sampai jamur terlepas dari bedengan. Jamur yang sudah dipetik sebaiknya diangin-anginkan diatas tempat terbuka agar supaya tidak lekas rusak.


BUDIDAYA TANAMAN JAHE

I.                   PENDAHULUAN
Potensi
Tanaman Jahe merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia.   Jahe diekspor dalam bentuk jahe segar, jahe kering, jahe segar olahan dam minyak atsiri.   Dengan semakin berkembangnya perusahaan jamu dalam negeri bahkan telah melakukan ekspor kemancanegara maka peluang pengembangan jahe sebagai salah satu bahan baku pembuatan jamu menjadi sangat terbuka.  
Berdasarkan data stastistik perkebunan semester I tahun 1999 luas areal penanaman jahe di Kabupaten Sukabumi sebesar 1.176,65 Ha dan umumnya ditanam pada areal perkebunan rakyat.
Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu sentra produksi jahe di Jawa Barat sebenarnya mempunyai peluang yang cukup besar dalam pengembangan jahe.   Hal ini jika dilihat dari potensi daerah, penyediaan sarana pertanian dan banyaknya petani yang secara rutin menanam jahe.   Sesuai dengan kesesuaian lahan dan iklim, banyak tempat di Kabupaten Sukabumi yang cocok untuk penanaman jahe.   Begitu pula dengan sarana pertanian yang mudah didapatkan dan terutama banyak petani yang telah berpengalaman dalam perjahean.  
Walaupun demikian sampai saat ini petani belum mendapatkan nilai tambah yang maksimal dalam usahataninya atau dengan kata lain keuntungan usahatani jahe masih banyak dirasakan oleh pedagang pengumpul dan para eksportir.   Hal ini disebabkan karena para petani belum menguasai teknologi budidaya yang mutakhir dan masalah mutu hasil produksi.   Dengan demikian banyak ditemukan kegagalan dalam usahatani yang disebabkan oleh masalah hama/penyakit terutama penyakit busuk bakteri, harga yang tidak sesuai dan hasil produksi yang rendah.
Prospek Pemasaran
Sebagai salah satu komoditas perkebunan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama sebagai bahan rempah-rempah dan obat-abatan tradisional maka jahe mempunyai prospek pemasaran yang cukup baik untuk dikembangkan.   Apalagi dewasa ini jahe telah menjadi salah satu komoditas ekspor yang permintaannya cukup tinggi dengan harga yang cukup tinggi dibandingkan dengan biaya produksi.   Kendala yang ditemui oleh para eksportir adalah pasokan jahe dari sentra-sentra produksi tidak mencukupi dibandingkan dengan pesanan yang diterima.   Adapun negara-negara tujuan ekspor adalah Amerikan Serikar, Belanda, Uni Emirat Arab, Pakistan, Jepang, Hongkong.   Bahkan Hongkong yang tidak mengembangkan jahe juga telah mengekspor manisan jahe yang dioleh dari jahe yang diimpor dari Indonesia.

II.                PEMBIBITAN
Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpang.   Pemilihan bibit disesuaikan dengan tujuan produksi.    Untuk produksi segar baik tua maupun muda hendaklah ditanam jahe gajah.   Sedangkan untuk produksi minuman, rempah-rempah, obat tradisional dan minyak arsiri memakai jenis jahe putih kecil dan klon jahe merah.
Bibit hendaklah berasal dari tanaman yang baik yaitu :
-          Dari tanaman yang tua dimana tajuknya mengering umur 9 – 10 bulan.
-          Dari tanaman yang sehat terutama tidak terserang penyakit layu bakteri, busuk rimpang dan lalat rimpang.
-    Tidak memar dan kulit tidak lecet.
Bibit diambil dari potongan rimpang dengan 1 –2 mata tunas yang telah tumbuh, dengan berat 20 – 40 gram untuk jahe putih kecil dan jahe merah sedangkan jahe gajah seberat  25 – 60 gram.     Kebutuhan bibit tiap hektar tergantung jenis dan jarak tanam, untuk jahe putih kecil dan jahe merah membutuhkan bibit sebanyak 1- 2 ton / ha sedangkan untuk jahe gajah membutuhkan bibit sebanyak 2 – 3 ton / ha.  Bila dipanen muda dapat ditanam lebih rapat lagi sehingga kebutuhan bibit lebih banyak yaitu   4 – 6 ton / ha dengan populasi tanaman sekitar 80.000 tanaman / ha.
Sebelum ditanam bibit perlu diperlakukan sebagai berikut :
-          Bibit disimpan pada tempat yang cukup lembab dan gelap sampai terbentuk tunas.
-          Bibit dipotong sesuai ukuran yaitu 1 –2 tunas yang tumbuh.
-          Potongan bibit direndam dalam Agrimicin 0,1 % selama 8 jam.
Bagian bibit yang terluka dicelupkan kedalam larutan kental abu dapur atau bisa ditambah fungisida Dithane M 45 atau Benlate.

III.             BUDIDAYA
Syarat Tumbuh
Agar diperoleh rimpang yang gemuk berdaging, tanaman jahe sebaiknya ditanam di tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik.  Jenis tanah yang cocok yaitu tanah andosol dan latosol merah coklat serta keasaman tanah normal (ph : 6 – 7 ).
Tanaman jahe umumnya ditanam pada daerah tropik dan sub tropik yang mendapat curah hujan yang agak merata sepanjang tahun dan curah hujan yang cocok berkisar antara 1.500 – 4.000 mm / tahun.   Selain itu tanaman jahe paling cocok ditanam pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian tempat antara 500 – 1.000 m dari permukaan laut.   Walaupun demikian jahe gajah masih dapat ditanam pada lahan yang curah hujannya kurang dari 2.500 mm, dataran rendah dan lahan gambut dengan penambahan unsur hara dan pengaturan drainase.
Pada umumnya selama fase pertumbuhan, tanaman jahe memrlukan intensitas sinar yang cukup tinggi, oleh karena itu jahe lebih baik ditanam di daerah terbuka.   Walaupun demikian pada awal pertumbuhan, jahe dapat ditanam diantara tanaman semusim seperti cabe keriting.
Penanaman
Tanah diolah sampai gembur dengan mencangkul sedalam lebih kurang 30 cm. kemudian dibuat saluran drainase agar air tidak tergenang.   Setelah tanah diolah kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 20 – 30 ton / ha dan di atas pupuk kandang diberikan pupuk SP 36 sebanyak 300 – 400 kg / ha.   Untuk tanah yang kandungan liatnya tinggi dapat diberi alas sekam sebanyak 5 ton / ha sebelum diberi pupuk kandang.
Agar diperoleh rimpang yang gemuk berdaging, tanaman jahe sebaiknya ditanam di tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik.  Jenis tanah yang cocok yaitu tanah andosol dan latosol merah coklat serta keasaman tanah normal (ph : 6 – 7 ).
Tanaman jahe umumnya ditanam pada daerah tropik dan sub tropik yang mendapat curah hujan yang agak merata sepanjang tahun dan curah hujan yang cocok berkisar antara 1.500 – 4.000 mm / tahun.   Selain itu tanaman jahe paling cocok ditanam pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian tempat antara 500 – 1.000 m dari permukaan laut.   Walaupun demikian jahe gajah masih dapat ditanam pada lahan yang curah hujannya kurang dari 2.500 mm, dataran rendah dan lahan gambut dengan penambahan unsur hara dan pengaturan drainase.
Pada umumnya selama fase pertumbuhan, tanaman jahe memrlukan intensitas sinar yang cukup tinggi, oleh karena itu jahe lebih baik ditanam di daerah terbuka.   Walaupun demikian pada awal pertumbuhan, jahe dapat ditanam diantara tanaman semusim seperti cabe keriting.



Pemeliharaan
Fase pemeliharaan tanaman merupakan masa yang sangat penting dan menentukan dalam mengahasilkan produksi sesuai dengan yang diharapkan.
Penyulaman tanaman dapat dilakukan dua atau tiga minggu setelah tanam untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya lambat.   Pada waktu          tiga bulan pertama tanaman jahe memerlukan lingkungan tumbuh yang prima, untuk itu perlu dilakukan penyiangan sebulan sekali.   Bersamaan dengan penyiangan juga dilakukan pembumbunan setelah tanaman berumur 2 – 3 bulan.
Pemupukan susulan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam dengan pupuk urea     400 kg / ha dan KCL sebanyak 300 kg / ha.   Pada waktu tanaman berumur tiga bulan dipupuk dengan pupuk urea sebanyak 400 kg / ha.  
Serangan penyakit tanaman yang paling membahayakan adalah layu bakteri yang sampai saat ini belum ada pestisida yang efektif mengatasi serangannya.   Oleh karena itu usaha terbaik untuk mengatasinya dengan langkah pencegahan.   Faktor yang perlu diperhatikan adalah kondisi lahan, bibit, rotasi tanaman dan sistem drainase.   Selain itu tanaman jahe dapat juga diserang penyakit busuk rimpang, bercak daun, lalat rimpang serta nematoda.

IV.             PANEN
Tanaman jahe umumnya dipanen tua setelah berumur 8 – 10 bulan saat kadar oleoresin optimum ditandai dengan rasa pedas dan bau harum.   Khusus untuk jahe gajah bisanya dipanen disesuaikan dengan tujuan pemanfaatannya.   Pekebun memanen jahe muda apabila harga sedang tinggi atau berindikasi terserang gejala penyakit,  hasilnya berkisar antara 3 – 5 ton / ha.   Apabila dipelihara dengan baik jahe gajah dapat menghasilkan     15 – 30

V.                PASCA PANEN
Setelah dipanen jahe sesegera mungkin dijual ke pasar, penyimpanan yang kurang baik dan terlalu lama beresiko menimbulkan penyakit pasca panen.   Selain itu bila terlalu lama disimpan maka bobot jahe akan berkurang atau susut sampai 10 %.






BUDIDAYA   TANAMAN  JAHE

T
anaman Jahe merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia.   Jahe diekspor dalam bentuk jahe segar, jahe kering, jahe segar olahan dam minyak atsiri.   Dengan semakin berkembangnya perusahaan jamu dalam negeri bahkan telah melakukan ekspor kemancanegara maka peluang pengembangan jahe sebagai salah satu bahan baku pembuatan jamu menjadi sangat terbuka.  
Berdasarkan data stastistik perkebunan semester I tahun 1999 luas areal penanaman jahe di Kabupaten Sukabumi sebesar 1.176,65 Ha dan umumnya ditanam pada areal perkebunan rakyat.

JENIS TANAMAN JAHE

Tanaman Jahe dapat dibedakan dari beberapa jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpang yaitu Jahe Putih Kecil, Jahe Putih Besar dan Jahe Merah.
-          Jahe Merah disebut juga Jahe Sunti dengan ciri-ciri sebagai berikut : rimpangnya kecil berwarna kuning kemerahan dan seratnya kasar, rasanya sangat pedas dan aromanya sangat tajam.
-          Jahe Putih Kecil atau jahe emprit dengan ciri-ciri sebagai berikut :  bentuknya pipih, warnanya putih kuning, seratnya lembut dan aromanya lebih tajam dari jahe putih besar.
-          Jahe putih Besar lebih dikenal dengan nama Jahe Badak atau Jahe Gajah dengan ciri-ciri sebagai berikut : rimpangnya jauh lebih besar dan ukurannya lebih gemuk tetapi aroma dan rasanya kurang tajam dibanding kedua jenis lainnya.

TANAH DAN IKLIM

Agar diperoleh rimpang yang gemuk berdaging, tanaman jahe sebaiknya ditanam di tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik.  Jenis tanah yang cocok yaitu tanah andosol dan latosol merah coklat serta keasaman tanah normal (ph : 6 – 7 ).
Tanaman jahe umumnya ditanam pada daerah tropik dan sub tropik yang mendapat curah hujan yang agak merata sepanjang tahun dan curah hujan yang cocok berkisar antara 1.500 – 4.000 mm / tahun.   Selain itu tanaman jahe paling cocok ditanam pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian tempat antara 500 – 1.000 m dari permukaan laut.   Walaupun demikian jahe gajah masih dapat ditanam pada lahan yang curah hujannya kurang dari 2.500 mm, dataran rendah dan lahan gambut dengan penambahan unsur hara dan pengaturan drainase.
Pada umumnya selama fase pertumbuhan, tanaman jahe memrlukan intensitas sinar yang cukup tinggi, oleh karena itu jahe lebih baik ditanam di daerah terbuka.   Walaupun demikian pada awal pertumbuhan, jahe dapat ditanam diantara tanaman semusim seperti cabe keriting.

PENGOLAHAN TANAH

Tanah diolah sampai gembur dengan mencangkul sedalam lebih kurang 30 cm. kemudian dibuat saluran drainase agar air tidak tergenang.   Setelah tanah diolah kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 20 – 30 ton / ha dan di atas pupuk kandang diberikan pupuk SP 36 sebanyak 300 – 400 kg / ha.   Untuk tanah yang kandungan liatnya tinggi dapat diberi alas sekam sebanyak 5 ton / ha sebelum diberi pupuk kandang.

PENYEDIAAN BIBIT

Tanaman jahe diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpang.   Pemilihan bibit disesuaikan dengan tujuan produksi.    Untuk produksi segar baik tua maupun muda hendaklah ditanam jahe gajah.   Sedangkan untuk produksi minuman, rempah-rempah, obat tradisional dan minyak arsiri memakai jenis jahe putih kecil dan klon jahe merah.
Bibit hendaklah berasal dari tanaman yang baik yaitu :
-          Dari tanaman yang tua dimana tajuknya mengering umur 9 – 10 bulan.
-          Dari tanaman yang sehat terutama tidak terserang penyakit layu bakteri, busuk rimpang dan lalat rimpang.
-    Tidak memar dan kulit tidak lecet.
Bibit diambil dari potongan rimpang dengan 1 –2 mata tunas yang telah tumbuh, dengan berat 20 – 40 gram untuk jahe putih kecil dan jahe merah sedangkan jahe gajah seberat  25 – 60 gram.     Kebutuhan bibit tiap hektar tergantung jenis dan jarak tanam, untuk jahe putih kecil dan jahe merah membutuhkan bibit sebanyak 1- 2 ton / ha sedangkan untuk jahe gajah membutuhkan bibit sebanyak 2 – 3 ton / ha.  Bila dipanen muda dapat ditanam lebih rapat lagi sehingga kebutuhan bibit lebih banyak yaitu   4 – 6 ton / ha dengan populasi tanaman sekitar 80.000 tanaman / ha.
Sebelum ditanam bibit perlu diperlakukan sebagai berikut :
-          Bibit disimpan pada tempat yang cukup lembab dan gelap sampai terbentuk tunas.
-          Bibit dipotong sesuai ukuran yaitu 1 –2 tunas yang tumbuh.
-          Potongan bibit direndam dalam Agrimicin 0,1 % selama 8 jam.
-          Bagian bibit yang terluka dicelupkan kedalam larutan kental abu dapur atau bisa ditambah fungisida Dithane M 45 atau Benlate.

PENANAMAN

Penanaman dilakukan pada bedengan yang dibentuk dengan lebar 80 – 100 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak antar bedengan 40 – 50 cm.   Pada bedengan dibuat alur sedalam 10 – 15 cm sebagai lubang tanam kemudian bibit ditanam sedalam 3 – 5 cm dengan tunas menghadap ke atas.   Setelah tanam dapat diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun pisang terutama pada daerah-daerah yang penyinarannya cukup tinggi.

PEMELIHARAAN

Fase pemeliharaan tanaman merupakan masa yang sangat penting dan menentukan dalam mengahasilkan produksi sesuai dengan yang diharapkan.
Penyulaman tanaman dapat dilakukan dua atau tiga minggu setelah tanam untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya lambat.   Pada waktu          tiga bulan pertama tanaman jahe memerlukan lingkungan tumbuh yang prima, untuk itu perlu dilakukan penyiangan sebulan sekali.   Bersamaan dengan penyiangan juga dilakukan pembumbunan setelah tanaman berumur 2 – 3 bulan.
Pemupukan susulan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam dengan pupuk urea     400 kg / ha dan KCL sebanyak 300 kg / ha.   Pada waktu tanaman berumur tiga bulan dipupuk dengan pupuk urea sebanyak 400 kg / ha.  
Serangan penyakit tanaman yang paling membahayakan adalah layu bakteri yang sampai saat ini belum ada pestisida yang efektif mengatasi serangannya.   Oleh karena itu usaha terbaik untuk mengatasinya dengan langkah pencegahan.   Faktor yang perlu diperhatikan adalah kondisi lahan, bibit, rotasi tanaman dan sistem drainase.   Selain itu tanaman jahe dapat juga diserang penyakit busuk rimpang, bercak daun, lalat rimpang serta nematoda.

PANEN DAN PASCA PANEN

Tanaman jahe umumnya dipanen tua setelah berumur 8 – 10 bulan saat kadar oleoresin optimum ditandai dengan rasa pedas dan bau harum.   Khusus untuk jahe gajah bisanya dipanen disesuaikan dengan tujuan pemanfaatannya.   Pekebun memanen jahe muda apabila harga sedang tinggi atau berindikasi terserang gejala penyakit,  hasilnya berkisar antara 3 – 5 ton / ha.   Apabila dipelihara dengan baik jahe gajah dapat menghasilkan     15 – 30 ton / ha,  sedangkan  jahe  merah  dan  jahe  emprit  menghasilkan     10 – 15 ton / ha.
Setelah dipanen jahe sesegera mungkin dijual ke pasar, penyimpanan yang kurang baik dan terlalu lama beresiko menimbulkan penyakit pasca panen.   Selain itu bila terlalu lama disimpan maka bobot jahe akan berkurang atau susut sampai 10 %.






























PELUANG   PASAR  JAHE

S
ebagai salah satu komoditas perkebunan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama sebagai bahan rempah-rempah dan obat-abatan tradisional maka jahe mempunyai prospek pemasaran yang cukup baik untuk dikembangkan.   Apalagi dewasa ini jahe telah menjadi salah satu komoditas ekspor yang permintaannya cukup tinggi dengan harga yang cukup tinggi dibandingkan dengan biaya produksi.   Kendala yang ditemui oleh para eksportir adalah pasokan jahe dari sentra-sentra produksi tidak mencukupi dibandingkan dengan pesanan yang diterima.   Adapun negara-negara tujuan ekspor adalah Amerikan Serikar, Belanda, Uni Emirat Arab, Pakistan, Jepang, Hongkong.   Bahkan Hongkong yang tidak mengembangkan jahe juga telah mengekspor manisan jahe yang dioleh dari jahe yang diimpor dari Indonesia.

Potensi dan kendala.
Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu sentra produksi jahe di Jawa Barat sebenarnya mempunyai peluang yang cukup besar dalam pengembangan jahe.   Hal ini jika dilihat dari potensi daerah, penyediaan sarana pertanian dan banyaknya petani yang secara rutin menanam jahe.   Sesuai dengan kesesuaian lahan dan iklim, banyak tempat di Kabupaten Sukabumi yang cocok untuk penanaman jahe.   Begitu pula dengan sarana pertanian yang mudah didapatkan dan terutama banyak petani yang telah berpengalaman dalam perjahean.  
Walaupun demikian sampai saat ini petani belum mendapatkan nilai tambah yang maksimal dalam usahataninya atau dengan kata lain keuntungan usahatani jahe masih banyak dirasakan oleh pedagang pengumpul dan para eksportir.   Hal ini disebabkan karena para petani belum menguasai teknologi budidaya yang mutakhir dan masalah mutu hasil produksi.   Dengan demikian banyak ditemukan kegagalan dalam usahatani yang disebabkan oleh masalah hama/penyakit terutama penyakit busuk bakteri, harga yang tidak sesuai dan hasil produksi yang rendah.


Pemasaran Jahe.
Hasil produksi jahe dipasarkan dalam bentuk rimpang segar dan jahe olahan disesuaikan dengan permintaan pasar baik untuk pemasaran dalam negeri maupun ekspor.
Rimpang segar.
Para petani umumnya menjual jahenya dalam bentuk rimpang segar baik jahe gajah, jahe emprit maupun jahe merah.   Rimpang segar jahe gajah banyak diekspor untuk memenuhi permintaan beberapa negara.   Di negara tersebut jahe segar akan diolah kembali menjadi minuman berupa anggur jahe dan sirup jahe dan makanan berupa selei dan dodol jahe.   Untuk keperluan ekspor harus memenuhi syarat mutu hasil yaitu umur panen 8 – 9 bulan, bobot rimpang minimal 150 gram, rimpang beruas utuh, berdaging cerah, bersih dari batang semu, akar, serangga dan kotoran yang melekat.   Rimpang segar jahe emprit dan jahe merah digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan industri obat tradisional.
Jahe Olahan.
Hasil olahan jahe ternyata lebih menguntungkan untuk dipasarkan karena harganya lebih tinggi dibandingkan dengan jahe segar.    Jahe gajah yang dipanen muda diproses menjadi jahe asinan (salted ginger) sebelum diekspor.   Di negara tujuan jahe asinan akan diolah kembali menjadi manisan jahe.   Untuk mengolah menjadi jahe asinan  harus memenuhi persyaratan umur panen 3 – 4 bulan,  kondisi  segar dan tidak busuk.        Ukuran rimpang disesuaikan dengan bobot yaitu L : 100 gr – 150 gr,   M : 50 gr – 100 gr,  S : < 50 gr.
Jahe kecil emprit yang dipanen umur 9 bulan diolah menjadi jahe kering kemudian diekspor sesuai dengan permintaan negara pemesan baik dalam bentuk jahe hitam yang kulitnya belum dikupas, jahe putih yang kulitnya dikupas sama sekali dan jahe kasar yang kulitnya rada-rada dikupas.   Kemudian jahe kering ini diolah kembali menjadi gula jahe, bubuk jahe, minyak jahe dan oleoresin.   Bubuk jahe banyak digunakan oleh industri farmasi, makanan, minuman dan sebagai penyedap masakan.
Begitu pula dengan jahe merah selain dipasarkan, rimpang segarnya juga diolah menjadi jahe kering sebagai bahan baku untuk membuat gula jahe dan ampasnya diolah menjadi tepung jahe yang banyak digunakan oleh industri obat-obatan.

Langkah Strategis.
Untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam usahatani jahe maka perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
1.        Perlu diketahui kemana hasil produksi akan dipasarkan baik menyangkut    harga maupun jenis produksi yang diinginkan oleh eksportir atau pedagang pengumpul.
2.        Benih yang berkualitas harus benar-benar dijamin ketersediaannya dan kalau telah ada sebaiknyan digunakan benih yang bersertifikat.
3.        Pemilihan lokasi penanaman harus sesuai dengan tanaman jahe.
4.        Penanaman harus disesuaikan dengan musim tanam.
5.        Mudah mendapatkan sarana pertanian lainnya seperti pupuk dan pestisida.
6.    Menguasai teknologi budidaya dan pengolahan hasil produksi.
Diharapkan dengan melaksanakan langkah-langkah strategis di atas pelaku bisnis jahe mulai dari petani sampai tingkat ekspotir akan mendapatkan keuntungan.   Eksportir akan mendapatkan bahan baku untuk ekspor dengan jumlah yang cukup sesuai pesanan dilain pihak petani akan mendapatkan kepastian harga dan volume produksi yang dibutuhkan sehingga tidak terjadi over produksi yang mengakibatkan harga komoditas menjadi jatuh. 
Karena bisnis jahe memerlukan modal yang cukup besar maka hal yang tidak kalah penting untuk dipikirkan adalah masalah permodalan baik ditingkat petani maupun pihak pedagang pengumpul dan eksportir.   Petani jahe yang selama ini mengelola tanamannya dengan menggunakan modal sendiri tentu tidak dapat melaksanakan semua anjuran teknis yang diberikan baik mengenai budidaya tanaman maupun pengolahan pasca panen, begitu pula lahan yang dapat diusahakannya sangat terbatas.   Begitu pula para pedagang pengumpul dan eksportir akan sulit memenuhi pesanan dari luar negeri maupun dalam negeri karena keterbatasan dana dalam mengumpulkan hasil produksi petani dan mengolah hasil dari petani menjadi produk yang sesuai dengan pesanan.

Kebijakan.
Sukabumi sebagai sentra produksi jahe di Jawa Barat perlu terus mengembangkan komoditas jahe dengan kemudahan kredit perbankan yang berbunga rendah, baik untuk para petani maupun pengusaha yang berkeinginan menjadi eksportir jahe.
Oleh karena itu apabila ada kebijakan untuk pengembangan komoditas jahe perlu disiapkan segala sesuatunya terutama menyangkut langkah-langkah strategis yang telah disebutkan di atas sehingga tingkat kegagalannya akan dapat diminimalkan yang berakibat pengembalian kredit dari petani dan pengusaha komoditi jahe akan lancar dan tepat waktu.   Hal ini akan menjadi terasa penting jika dilihat dari prinsip ekonomi kerakyatan dimana semua kebijakan harus berpihak kepada kepentingan rakyat bukan kepada segelintir orang.   Begitu pula harus semaksimal mungkin dapat mengakomodasi kegiatan masyarakat.   Masyarakat petani seperti petani tanaman pangan, pekebun, peternak maupun nelayan  yang merupakan bagian terbesar dari rakyat perlu diberi priorotas utama.   Sebagai langkah awal, diprioritaskan kepada komoditi unggulan untuk semua subsektor bukan hanya pada subsektor tertentu saja sehingga dapat menimbulkan perasaan ketidakadilan bagi pelaku tani yang lain.   Selanjutnya perlu diperhatikan komoditas lain yang perlu dikembangkan karena mempunyai prospek pemasaran yang baik terutama untuk ekspor.       



   







Budidaya Cabai (Cabe) dalam Pot atau Polybag


Tanaman Buah dalam Pot
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilEkmBxNx869_ZU0zzjjLxsIG10hSPGn1tFyaB6Hxp8aCpczkOVDAu4AMZdGVK-gcejKND_6KSIRl1AK_B23nFsQg2EbKhYRznlJY5qFk759KaNDDHrUiw8RNNWw6eEjDI_sIiFsA3rQqC/s200/Cabe+dalam+pot.jpgKebiasaan banyak orang disekitar kita lebih senang menanam tanaman hias di pekarangan rumah, tanaman hias hanya bermanfaat bagi penghijauan dan hanya dapat dinikmati sebatas keindahan mata kita memandang. Akan tetapi budidaya cabai dalam pot atau polybag dapat memberikan kesan hijau, sejuk, indah, dan selain itu jika kita lihat dari segi manfaat dan dari segi ekonomi budidaya cabai dalam pot atau polybag dapat membantu kebutuhan ekonomi keluarga, buah cabai yang dihasilkan dapat digunakan untuk keperluan dapur, dan tidak menutup kemungkinan hal ini bisa dijadikan peluang usaha sebagai sumber penghasilan, walaupun melakukan budidaya cabai dalam pot atau polybag kalau memang ditekuni bisa saja menjadi peluang usaha kecil-kecilan.

Setidaknya saat panen kita bisa menjualnya ke tetangga sekitar kita.
Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang budidaya cabai dalam skala besar atau budidaya cabai di area lahan yang luas. (silahkan baca selengkapnya di Budidaya Cabai Rawit).
Nah untuk Anda yang memang tidak memiliki pekarangan yang luas alangkah baiknya Anda mencoba budidaya cabai dalam pot atau polybag, karena budidaya cabai dalam pot atau polybag tidak perlu membutuhkan area pekarangan yang begitu luas.

Berikut akan kami bahas cara budidaya cabai dalam pot atau polybag:

Syarat Tumbuh
Pada umumnya cabe dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl. Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24-27 derajat Celsius dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi.
Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan sudut kemiringan lahan 0 sampai 10 derajat serta membutuhkan sinar matahari penuh dan tidak ternaungi. pH tanah yang optimal antara 5,5 sampai 7.
Tanaman cabe menghendaki pengairan yang cukup. Tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri. Jika kekurangan air tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu dan mati. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan.

Persiapan Bibit
Bibit merupakan faktor yang paling menentukan dalam budidaya suatu tanaman. Meskipun pemeliharaan telah dilakukan secara maksimal, tetapi tidak akan memperoleh hasil yang optimal kalau bibit yang ditanam dari benih yang kurang baik. Untuk memperoleh benih yang baik adalah:
  1. Pilih buah cabai yang sehat, lebih besar dari yang lainnya dan matang sempurna. 
  2. Buang bagian pangkal dan ujungnya. 
  3. Sayat bagian buah yang tersisa, kemudian ambil bijinya. 
  4. Jemur ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung selama tiga hari. 
Langkah berikutnya adalah menyemai benih yang sudah kering untuk dijadikan bibit. Kegiatan menyemai ini diawali dengan merendam benih dengan air hangat selama kurang lebih 30 menit.
Benih yang masih mengapung setelah sehari semalam direndam harus dibuang, karena benih tersebut pertumbuhannya tidak akan maksimal. Untuk benih yang tenggelam bungkus dengan kain basah dan biarkan sehari semalam lagi. Keesokan harinya benih baru disemaikain.
Persemaian harus disiapkan bersamaan dengan kegiatan merendam benih. Media yang digunakan berupa tanah gembur yang dicampur pupuk kandang yang sudah matang dengan perbandingan sama banyak. Masukan media persemaian ke dalam plastik es yang diameternya 3-5 cm dan untuk tingginya cukup 6 cm saja (atau bisa disesuaikan). Selanjutnya, semaikan benih satu per satu. Atasnya tutup dengan media, tipis saja, supaya benih tidak terlihat. Selama benih belum tumbuh kondisi media harus selalu lembab dan waspada terhadap pencurian benih yang dilakukan semut atau serangga lainnya. Benih siap untuk dijadikan bibit dan dipindahtanamkan apabila sudah memiliki empat helai daun sempurna.

Media Tanam
Media tanam merupakan tempat berkembangnya akar dalam menunjang pertumbuhan tanaman. Dari media tanam ini tanaman menyerap makanan yang berupa unsur hara melalui akarnya. Media tanam harus sudah siap paling lambat dua minggu sebelum tanam supaya terjadi pemadatan media yang sempurna. Media yang baik untuk digunakan terdiri dari tanah gembur atau top soil, kompos, dan sekam padi dengan perbandingan volume sama banyak. Aduk ketiga bahan tadi sampai tercampur rata, kemudian masukan ke pot atau polybag yang memiliki diameter minimal 30 cm.
Bahan-bahan di atas memiliki fungsi yang berbeda, namun satu sama lain saling mendukung. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar dengan prinsip pertukaran kation. Sekam gunanya untuk menampung/mengikat air dalam tanah, sedangkan kompos untuk menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi hara yang diperlukan oleh tanaman.
Sebaiknya kompos yang digunakan adalah kompos yang terbuat dari sampah dapur dan sampah rumah tangga. Tujuannya adalah untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan, minimalnya yang ada di sekitar kita, dari permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah. Disamping itu, untuk menghemat biaya dalam pengadaan kompos. Cara pembuatan kompos pernah dibahas pada artikel Pupuk Organik.

Penanaman Seminggu sebelum tanam, media disiram dengan dua gelas MOL Keong Mas secara merata. Sebelum disiramkan, MOL harus dicampur air terlebih dahulu dengan dosis dua gelas MOL ditambah satu ember air (kira-kira 10 liter). Begitu juga sehari sebelum tanam, media harus disiram lagi menggunakan MOL dengan dosis yang sama, tetapi dalam penyiraman cukup segelas saja.  Bibit yang ditanam hanya bibit yang sudah memiliki minimal empat daun sempurna, sehat dan pertumbuhannya bagus. Proses penanamannya adalah: 
  1. Buat lubang persis di tengah-tengah media, kira-kira lebih besar sedikit dari ukuran media bibit. 
  2. Buka plastik bibit dengan cara merobeknya. Saat merobek plastik harus berhati-hati jangan sampai merusak media dan mengakibatkan banyak akar yang terputus. 
  3. Masukan bibit ke lubang yang telah dibuat. 
  4. Tutup media bibit dengan media bekas pembuatan lubang, lalu ratakan. 
  5. Siram media tanam dengan air biasa sampai kebas. 
Apabila cuaca panas, sebaiknya tanaman diberi pelindung dari pelepah pisang yang ditekuk menjadi dua bagian kemudian disungkupkan menutupi bibit menyerupai bentuk segitiga sama kaki. Pemberian pelindung ini dimaksudkan supaya bibit yang baru ditanam tetap segar dan tidak mengalami kelayuan.

Perawatan Tanaman Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan tanaman adalah: 
  1. Penyiraman dilakukan secara rutin, setiap pagi dan sore hari. Kegiatan ini tidak perlu dilakukan apabila cuaca hujan atau tanaman dikocor dengan MOL. 
  2. Mulai umur 7 hari sampai keluar bunga tanaman dikocor menggunakan MOL Keong Mas dengan dosis dua gelas/ember air. Setiap tanaman cukup diberi satu gelas dan diulang seminggu sekali. 
  3. Sejak tanaman berbunga sampai habis masa panen pengocoran tanaman menggunakan MOL Rebung Bambu dengan dosis dan cara pengaplikasian sama seperti di atas. Mengenai pembuatan MOL diuraikan di bawah. 
  4. Penyemprotan menggunakan Effective Microorganisme (EM) atau bisa juga dengan cairan MOL tadi setiap lima hari sekali dengan dosis dua sdm/liter air. 
  5. Perempelan daun-daun tua, bunga pertama dan seluruh tunas yang keluar dari ketiak daun di bawah percabangan pertama. 
  6. Pencabutan tanaman liar atau rumput yang tumbuh di media tanam sekaligus dengan mengemburkan medianya. 
  7. Jika terjadi tanda-tanda serangan hama atau penyakit, untuk menanggulanginya, lakukan dengan menyemprotkan pestisida organik.
Panen
Umur panen cabai biasanya 7090 hari tergantung varietasnya, yang ditandai dengan 60% cabai sudah berwarna merah. Untuk dijadikan benih maka cabai dipanen bila buah sudah menjadi merah semua. Setelah panen pertama, setiap 34 hari sekali dilanjutkan dengan panen rutin. Tanaman cabai dapat dipanen terusmenerus hingga berumur 67 bulan. Cabai yang sudah berwama merah sebagian berarti sudah dapat dipanen. Ada juga petani yang sengaja memanen cabainya pada saat masih muda (berwarna hijau). Pemetikan dilakukan dengan hatihati agar percabangan/tangkai tanaman tidak patah. Kriteria panen saat ukuran cabai sudah besar, tetapi masih berwama hijau penuh.

Gampang kan...??? Selamat mencoba budidaya cabai dalam pot atau polybag. Semoga Sukses. Amiin.